Hakikat menunggu (bagian 2)

"When will it end? When will you come?"
Menunggu. 

Ketika seseorang membuat kita menunggu, itu berarti ada hal lebih penting yang dia urus dibandingkan kita.

Selalu begitu.

Karena kalau kita memang penting, amat berharga, dia tidak akan pernah membiarkan kita menunggu. Dan sama, ketika kita merasa seseorang itu penting, kita juga tidak akan pernah membiarkan dia menunggu sedikit pun.


Wanita adalah mahkluk kepastian. Sebagian besar dari mereka bisa menunggu dengan sabar datangnya kepastian tersebut; menunggu, menunggu dan terusss menunggu.

Maka, biar momen menunggu itu tetap berkualitas, mari diisi dengan hal-hal yang positif. Sibukkan diri dengan aktivitas bermanfaat. Terus memperbaiki diri. Nah, kalau ternyata si mister x itu nggak nyadar-nyadar juga ditungguin, malah nyantol ke tempat lain, setidaknya momen menunggunya tidak sia-sia.


Hidup ini tidak seperti novel, yang kalau halaman sekarang terasa sesak, sedih, menyakitkan, penuh masalah, maka dengan bersabar membaca 10, 20 halaman berikutnya semua selesai, berubah jadi membahagiakan. Apalagi seperti film, yang cukup beberapa menit berubah jadi happy ending.


Di kehidupan nyata, kita bahkan perlu 10, 20 hari, bulan, bahkan tahun harus terus bersabar agar semua selesai, berubah jadi membahagiakan. Karena itulah, menjadi dewasa oleh kehidupan, memiliki pemahaman baik karena proses kehidupan, akan menjadikan seseorang lebih kuat dan lebih kuat lagi. 


Lagi-lagi post kali ini tentang perbuatan membosankan lagi yaaa..aduh apaan si..hahaha
Gapapa deh, lagi mau buat nambah-nambah post di blog penuh coretan-coretan ini :p

Kalimat-kalimat pertama di atas dikutip dari penulis novel terkenal Tere Liye, yaitu tentang hakikat menunggu itu bagaimana sih..

Bang Tere seringkali mem-post maupun memberi cerita atau berbagi pandangannya tentang menunggu. 

Ya, bagi yang sudah sangat merindukan kehidupan berkeluarga, atau sudah ingin dan penasaran sekali siapa jodohnya, siapa laki-laki yang akan menemaninya hingga akhir usianya namun ternyata ALLAH masih belum juga memberi tau, belum ada tanda-tanda kedatangannya, belum pun ada petunjuk siapa kiranya sosok misterius itu..#ciaaaahh kalimatnya -___-"

Yup, aku mencoba mencari postingan-postingan Bang Tere yang akan membuat kita memiliki pemahaman yang lebih baik. Pemahaman mengenai rasa yang tidak enak itu, perasaan yang entah apa, perasaan yang sungguh tidak jelas.

Bagaimanalah aku menghadapinya?

Tanyakanlah kepada pak petani yang menanam padi
Siang malam dia menyiapkan lahan, berhari-hari menyiangi, membajak, 
Menyebar benih penuh pengharapan, 
Lantas merawat sawahnya dengan segenap perasaan
Maka sudah tibanya menunggu kebaikan takdir
Menatap hijau padi
Jika Allah berkehendak, besok akan muncul bilur buah 
Lebat bergumpal-gumpal, penuh isinya
Tapi jika Allah berkehendak lain, buah padi hanya segelintir
Dimakan tikus, dihabisi hama, sia-sia semuanya

Sungguh tanyakanlah arti menunggu kepada pak petani.

Tanyakanlah kepada pak nelayan yang pergi melaut
Sore berangkat menaiki perahu kayu
Membelah ombak, jauh meninggalkan bibir pantai
Melempar jaring, di malam dingin, angin berhembus kencang
Kadangkala badai tidak bersahabat datang
Maka setelah berjam-jam, jaring diangkat
Jika Allah berkehendak, ikan-ikan menggeliat dibawah temaram bulan
Banyak ikannya, besar-besar begitu menggoda
Tapi jika Allah berkehendak lain, kosong jaringnya hingga ke tepi
Satu-dua saja yang tersangkut, itupun ikan kurus-kurus


Sungguh tanyakanlah arti menunggu kepada pak nelayan

Tanyakanlah kepada pak sopir angkot
Berangkat pagi2 sekali membawa mobilnya
Melintasi jalanan macet, sesak, pengap
Berusaha mencari keberuntungan di setiap gang dan jalan
Maka, setelah seharian narik
Jika Allah berkehendak, penumpangnya banyak tak habis-habis
Jarak pendek, turun naik
Tapi jika Allah berkehendak lain, kosong saja mobilnya hingga petang
Juga sepi hingga malam, hanya menatap kosong macet jalanan

Sungguh tanyakanlah arti menunggu kepada pak sopir angkot

Ada banyak sekali tempat kita bisa bertanya
Dan mereka bisa menjawabnya dengan indah
Pun termasuk tentang perasaan

Aduhai, tanyakanlah urusan perasaan kepada orang yang tepat
Bacalah perumpamaan yang tepat
Bukalah buku2 yang tepat
Maka semoga kita akan paham arti menunggu yang tepat
Tidak keliru, tidak tertipu
Dan selalu bisa bahagia apapun hasilnya
Seperti pak petani, pak nelayan, pak sopir angkot
Kalaupun hasilnya tidak sesuai keinginan
Besok masih bisa menanam padi lagi, melaut, atau narik angkot
Kembali melakukan ritual menunggu

Tidak pernah berputus-asa atas takdir Allah



Bukankah itu tetap saja sulit sekali yaaaa untuk menerapkannya..sulit sekali untuk tetap sabar di setiap kejadihan dan di setiap kesedihan. Lalu bagaimanalah?
Wahai hati, baca ini:


Bersabar itu adalah salah-satu ikhtiar/usaha terbaik. Keliru sekali kalau ada yang bilang bersabar itu bukan ikhtiar, bilang nanti menyesal, dsbgnya. 

Al Qur'an bahkan menuliskannya dengan terang: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (2:45)

Tetapi tentu saja, sesuai dengan kelanjutan ayat ini, d
engan fantastis sekali langsung dijelaskan juga (sy tulis lagi): dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.

Jadi, jika kita tidak percaya menjadikan sabar sebagai penolong, simpel karena kita tidak masuk dalam golongan tersebut, orang2 yg khusyu'. Ingatlah, dengan definisi sabar yang tepat, meletakkannya dengan tepat, maka sabar akan menjadi 'amunisi paling mematikan'.


Semoga kita selalu dalam lindunganNya..aamiin :)

Baca juga Hakikat menunggu (bagian 1)

Comments