Akibat Putus Cinta, Pria Lebih Trauma..?

Waahh...bener ga niih...??
Perasaan pria yg lebih mengedepankan logika,ternyata bisa sensitif disaat putus cinta yaah..??
Marii kita tinjau..^_^

LAKI-LAKI ternyata lebih sensitif ketika berhadapan dengan akhir sebuah hubungan cinta. Penelitian menemukan di awal usia dua puluhan lelaki yang mengalami hubungan pasang surut ataupun putus cinta tampak lebih traumatis ketimbang perempuan.

Ini disinyalir karena selain dengan pasangannya, laki-laki cenderung tidak memiliki kedekatan dengan orang lain. Berbeda dengan perempuan yang umumnya juga dekat dengan teman dan keluarga yang selalu mendukung dan selalu bisa diandalkan ketika mereka mengalami kegagalan hubungan. Faktor inilah yang membuat mereka lebih kuat.



Menurut pakar sosiologi, jika pasangan mereka adalah satu-satunya orang yang dipercaya, maka kaum lelaki akan lebih rentan secara emosional ketika sang kekasih pergi menjauh – meskipun mereka tidak memperlihatkan perasaannya secara langsung.

“Perempuan muda cenderung memiliki hubungan lebih luas dengan teman dan keluarga yang bisa diandalkan ketika mereka mengalami patah hati. Sementara lelaki muda cenderung tidak pernah bercerita satu sama lain dan itu dapat membuat mereka merasa terisolasi. 

Persahabatan antar lelaki cenderung lebih bersifat kompetitif daripada saling menyayangi,” ujar Prof Melanie Bartley, seorang profesor sosiologi dari Universitas College London.
Hasil survei yang telah diterbitkan dalam Jurnal Health and Social Behaviour, menyebutkan sementara hubungan yang dialami laki-laki beresiko menyebabkan stres, kaum perempuan justru lebih pandai mengolah emosi guna menciptakan kebahagian.

Ketika hubungan berakhir perempuan lebih suka berbicara tentang emosi mereka dengan teman-teman sementara laki-laki lebih mengekspresikan perasaan mereka melalui minuman atau obat-obatan.

Dikutip oleh conectique.com, Profesor Robin Simon, dari Wake Forest University di North Carolina, mengatakan: “Penelitian kami menyoroti hubungan antara hubungan romantis di luar nikah dan emosional antara laki-laki dan perempuan di ambang dewasa.”
Anehnya, kami menemukan para lelaki muda lebih reaktif terhadap kualitas hubungan yang sedang berlangsung.”

Para pakar Sosiologi yang mengumpulkan data dari 1.000 orang dewasa berusia 18-23 tahun yang belum menikah, juga menduga bahwa hasil ini terpengaruh oleh krisis ekonomi. Mereka berasumsi, ketika laki-laki sulit mencari pekerjaan maka lebih memungkinkan mereka tergantung pada hubungan pribadi.

Comments

Post a Comment